September 27, 2006

Dana Rekonstruksi

Filed under: Pemerintahan, Umum
Dari Email : trirahadi@yahoo.com, http://gambiran.blogsome.com


 Pesan Anda : Mohon kejelasan tentang dana rekonstruksi ketentuan pusat 
setiap rumah rusak berat/roboh yang sudah disepakati oleh daerah 
sebesar Rp. 15 jt,Tahap I & II ( Rp. 5 dan 10 Jt ), Bapak Walikota sampai 
berita terakhir di Harian Kedaulatan Rakyat Hari Kamis, 14 September 2006 
halaman 24 itu juga Rp. 15 jt, namun Ir. Eko Suryo seorang pejabat di 
Kota Yogyakarta selalu mengatakan bahwa bantuian dana tersebut sebesar 
Rp. 10 jt ( Rp. 4 jt dan 6 Jt) informasi ini sudah sampai ke tingkat Rt 
dan warga, kami hanya ingin kejelasannya yang  5 jt mau dibawa kemana, 
atau untuk siapa ? Ir Eko Suryo mohon dikonfirmasi dengan Bapak 
Walikota dong ? jangan penyampaian kepada warga selalu beda dan membingungkan 
warga yang otaknya sudah tergoncang akibat gempa. Terima Kasih. 
[14-09-06]

 
     Balasan    : Terima kasih atas masukannya, dana rekontruksi sebesar 
Rp. 15 juta direncanakan dalam 3 tahap, yaitu tahap I sebesar Rp. 4 juta, 
tahap II sekitar diatas Rp. 6 juta (namun jumlahnya dalam tahap I dan 
II masih dibawah Rp. 15 juta), dan dalam tahap III untuk mencapai jumlah 
total mencapai Rp. 15 juta akan diusulkan pada APBN 2007

 
         UPIK PEMERINTAH KOTA JOGJA
     http://www.upik.jogja.go.id
September 20, 2006

Zaman sudah berubah

Filed under: Sejarah, Budaya, Agama

ZAMAN SUDAH BERUBAH

 
            Wong mangan wong,Sudah lumrah
  1. Anak lali bapak, anak lupa orangtuanya, semakin biasa.
  2. Wong tuwa lali tuane, Orang tua lupa ketuaanyya, juga tidak aneh
  3. Sing edan bisa dandan, yang gila bisa berries diri
  4. Sing bengkong bisa nggalang gedhong, Yang berjalan tak jujur, mampu membikin gedung.
  5. Wong waras lan adil uripe kepencil, Orang jujur dan baik malah tersingkir.
  6. Durjana saya ngambra-ambra, Penjahat semakin nekat.
  7. Wong apik saya sengsara, Orang baik semakin sengsara.
  8.  Orang gila dimaksudkan tidak lagi memperhitungkan norma dan etika dalam mengejar barang dunia.
  9. Orang yang bengkong artinya cara mengejar kebendaannya tidak jujur jadi kaya.
  10. Orang waras-baik dan adil biasanya hidupnya malah susah dan terpencil.
  11. Uniknya Wong bener saya thenger-thenger. Orang benar malah kebingungan
  12. Wong salah saya bungah-bungah, Orang bersalah makin riang.
  13. Di zaman ini barang dan uang hilang tak karuan.
  14. Demikian pula kepangkatan dan drajad kemanusiaan tidak lagi mempunyai arti lantarandigunakan mengejar hal-hal menyimpang dari jalur kebenaran, Namun nenek moyang dahulu memberikan pesan ; Bejane sing lali, bejane sing eling. Naging sakuntung-untunge sing lali, Isih untung sing eling lan waspada.
  15. Angkara murka saya ndadi
  16.  Masih untung yang ingat daripada yang lupa, tetapi lebih untung yang waspada akan kehidupan, Sebab angkara murka (di dunia)ini semakin merajalela. Hal ini membuat rakyat kecil jadi bingung. Tidak ada lagi panutan yang bisa dipegang. Teladan baik sudah sirna. Yang lebih berat lagi orang usaha jadi susah. Banyak halangan untuk usaha. Sebab banyak pekerja menantang majikan. Dan majikan jadi umpan.
  17. Dunia semakin tua dan semakin tak lagi mengindahkan kebaikan.
  18. Dunia semakin memburuk ini terlihat pada saat ini.
  19. Wong ala diuja. Wong ngert6i mangan ati. Banda dadi memala. Pangkat dadi pemikat. SAing sawenang-wenang rumangsa menang. Sing ngalah rumangsa kabeh salah. Wong sing atine suci dibenci.
Artinya ; Orang jahat dibiarkan. Orang yang seharusnya tahu malah bikin kisruh. Orang-oarng yang melek hokum yang diminta mengatasi hokum semakin menggunakan kepandaiannya untuk bikin frustasi rakyat kecil. Orang yang berkuasa makin merasa menang. Dan yang mengalah justru merasa serba salah. Orang-orang yang baik dan suci justru dibenci dan dijauhi.
Peringatan Allah SWT, sudah ada tanda, gempa adanya membuat nyali semakin jadi ciut lantaran Pitik angkrem sadhuwurane pikulan. Maling wani nantang sing duwe omah. Begal pdha ndugal. Rampok pdha keplok-keplok.
Rakyat yang menginginkan kebahagiaan dan ketentraman justru khawatir, karena ayam yang bertelur dan mengeram itu di ujung tanduk. Harapan rakyat pasti jauh panggang dari api. Zaman semakin rusak. Pencuri semakin berani melawan yang punya rumah. Harta rakyat disikat. Begal dan rampok makin merajalela. Dan perampok gembira berpesta pora.
Anehnya ditengah-tengah kegembiraan dan pesta pora itu masih juga dilantunkan doa-doa keselamatan.
Akibat menyalahgunakan doa-doa ; Akeh wong mendem donga. Kana kene rebutan unggul. Angkara murka ngabra-ambra. Agama ditantang. Akeh wong angkara murka. Nggedheake duraka. Ukum agama dilanggar. Prikamanungsan di iles-iles. Kasusilaan budi pekerti, sopan santun ditinggal.

 

Artinya ;

 

Doa hanya pelengkap seremonial. Disana sini berebut keunggulan. Sebab angkara murka digelar dimana-mana. Agama dintang. Kedurhakaan dibesarkan. Hukum agama dilanggar. Kemanusiaan dilanggar. Kesusilaan di tanggalkan.
Nenek moyang prihatin sebab mereka mempunyai semangat baik, arif bijaksana serta meninggalkan diri dan menegakkan pribadi yang jujur semakin langka di zaman sekarang ini. Tata lahirnya saja tetapi semangatnya sudah bukan lagi manusia umumnya.
Wong jawa kari separo, Landa china kari sejodo. Akeh wong ijir, akeh wong cethil. Sing eman ora keduman. Sing keduman ora eman. Akeh wong mbambung. Akeh wong limbung. Selot suwe mbesuk wolak walike jaman teka saya suwe saya rekasa.
Piwulange nenek moyang ; Tuwa pan wus pantes, kalamun pupuse tansah ngengidung pepujan jati, karana wus lerem kerem ing reh rahayu.
Artinya ; Sudah tua seharusnyalah senantiasa mengedepankan kearifan Allah SWT sebagai pedoman hidup kita. Kerana senang dalam  ulah kebatinan yang mengarah kepada kelestarian.
Kalamun pupuse wus tumelung, tumuli ngalami alum, tumungkula kanthi alim, paniku sinebut sepuh, garis wates pepancening gsti pinasthi.
Artinya ; Kalau umur sudah senja, bergegaslah untuk untuk sadar dan insyaf karena sudah garis Allah SWT bahwa manusia harus mati, nunggu pastinya.
Tuwa hawya kongsi tiwas hangudi nggayuh utama, kang supadi sinupeket ing pamitran, margane antuk pangapura.
Artinya ; Sudah tua jangan sampai lelah memburu keutamaan, mencari sahabat, karena itulah jalan mendapatkan maaf.

September 13, 2006

RT 30 RW 08 Cor Jalan

Filed under: Lingkungan, Pembangunan

Warga masyarakat RT 30 RW 08 Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulhardjo melaksanakan pembangunan jalan dengan cor, karena angkutan semi berat bisa masuk ini berkat partisipasi beberapa warga yang mempunyai kelebihan hasil untuk memperhatikan lingkungan, semua warga merasa sangat berterima kasih kepada penymbang dana pembangunan jalan dengan cor tersebut Peresmian dilaksanakan pada malam tirakatan 16 Agustus 2006 yang diresmikan oleh Ketua RT 30 Bapak Yos Tata Bhumi Putranto, bersama ketua RW 08 Bapak Sukardjijo. Beliau berpesan agar pembangunan terus ditingkatkan agar masyarakat dapat menjaga lingkungannya dengan baik serta mendukung program pemerintah Kota Yogyakarta, yang telah memperhatikan lingkungan, dengan program tanaman hias dengan bantuan setiap RW se Kota Yogyakarta menadapat bantuan sebesar Rp. 2 jt, sehingga lingkungan warga RT 30 harapan pengurus RT maupun pengurus RW agar menjadi bersih dengan didukung oleh semangat warganya sendiri. Pembangunan harus terus berjalan cepat atau lambat harus tetap berjalan. Demikian laporan singkat kami (Tri P)

Hujan dan Banjir datang

Filed under: Lingkungan, Pemerintahan

Hujan dan bajir yang beberapa bulan terakhir ini mungkin 2-3 bulan ke depan akan datang, masyarakat ada yang menunggu hujan agar semua tanaman, baik hasil hutan, pertanian sangat berharap dengan datang turunnya hujan. Pemerintah melalui Menteri Kehutanan MS Kaban yang dimuat dalam KR terbit Rabu Pon 13 September 2006 Halam depan mengungkapkan, pada musim hujan mendatang yang diperkirakan antara Oktober 2006 hingga Januari 2007, ada sekitar 5.073 desa di Pulau Jawa dan Selat Madura akan rawan bencana banjir dan tanah longsor.

Pemerintah dalam mengidikasikan ada 5.073 desa, 69 Kabupaten/Kota seluas 856.815 hektar dan 536.350 kepala keluarga yang rawan bencana di Pulau Jawa - Madura, apa yang dikatakan Pemerintah lewat Menteri Kehutanan itu memang benar, karena kami telah melihat sendiri dan mengunjungi selat Madura pada tanggal 9 - 11 September 2006 mengililingi Madura dari Pantai Selatan terus lewat Pantai Utara Selat Madura tersebut sangat rawan terjadinya banjir dan longsor jika hujan datang, karena hutan sebagai penghalang/penahan banjir sudah kering, pohon besar habis dibabat/dicuri hal ini sangat memprihatinkan bagi saya, sehingga kerusakan akibat pembabatan hujan yang membabi buta dan ulah kita berdampak pada kita, semua kembali pada kita. Menurut Menteri Kehutanan, bila hujan lebat terjadi selama 2-3 jam saja, maka potensi longosr dan banjirnya sangat tinggi. Indikasi bencana banjir dan tanah longsor disepanjang Pulau Jawa dan Selat Madura itu akibat hutan gundul yang ada didaerah tersebut. Apalagi hutan di Pulau Jawa kini tinggal 16 persen itu tutupan hutannya hanya tinggal 67 persen.

Untuk mengantisipasi banjir dan tanah longsor itu, alternatifnya adalah melaksanakan penghijauan dan juga pembuatan tanggul-tanggul baik kawasan hutan milik pemerintah maupun msayarakat sendiri yang dibantu oleh pemerintah, paling tidak dikoordinir pemerintah dari tingkat pusat sampai paling bawah. Demikian hasil kunjungan kami ke Pulau Madura penghasil Garam, dan ikan lautnya.(Tri P)