September 20, 2006

Zaman sudah berubah

Filed under: Sejarah, Budaya, Agama

ZAMAN SUDAH BERUBAH

 
            Wong mangan wong,Sudah lumrah
  1. Anak lali bapak, anak lupa orangtuanya, semakin biasa.
  2. Wong tuwa lali tuane, Orang tua lupa ketuaanyya, juga tidak aneh
  3. Sing edan bisa dandan, yang gila bisa berries diri
  4. Sing bengkong bisa nggalang gedhong, Yang berjalan tak jujur, mampu membikin gedung.
  5. Wong waras lan adil uripe kepencil, Orang jujur dan baik malah tersingkir.
  6. Durjana saya ngambra-ambra, Penjahat semakin nekat.
  7. Wong apik saya sengsara, Orang baik semakin sengsara.
  8.  Orang gila dimaksudkan tidak lagi memperhitungkan norma dan etika dalam mengejar barang dunia.
  9. Orang yang bengkong artinya cara mengejar kebendaannya tidak jujur jadi kaya.
  10. Orang waras-baik dan adil biasanya hidupnya malah susah dan terpencil.
  11. Uniknya Wong bener saya thenger-thenger. Orang benar malah kebingungan
  12. Wong salah saya bungah-bungah, Orang bersalah makin riang.
  13. Di zaman ini barang dan uang hilang tak karuan.
  14. Demikian pula kepangkatan dan drajad kemanusiaan tidak lagi mempunyai arti lantarandigunakan mengejar hal-hal menyimpang dari jalur kebenaran, Namun nenek moyang dahulu memberikan pesan ; Bejane sing lali, bejane sing eling. Naging sakuntung-untunge sing lali, Isih untung sing eling lan waspada.
  15. Angkara murka saya ndadi
  16.  Masih untung yang ingat daripada yang lupa, tetapi lebih untung yang waspada akan kehidupan, Sebab angkara murka (di dunia)ini semakin merajalela. Hal ini membuat rakyat kecil jadi bingung. Tidak ada lagi panutan yang bisa dipegang. Teladan baik sudah sirna. Yang lebih berat lagi orang usaha jadi susah. Banyak halangan untuk usaha. Sebab banyak pekerja menantang majikan. Dan majikan jadi umpan.
  17. Dunia semakin tua dan semakin tak lagi mengindahkan kebaikan.
  18. Dunia semakin memburuk ini terlihat pada saat ini.
  19. Wong ala diuja. Wong ngert6i mangan ati. Banda dadi memala. Pangkat dadi pemikat. SAing sawenang-wenang rumangsa menang. Sing ngalah rumangsa kabeh salah. Wong sing atine suci dibenci.
Artinya ; Orang jahat dibiarkan. Orang yang seharusnya tahu malah bikin kisruh. Orang-oarng yang melek hokum yang diminta mengatasi hokum semakin menggunakan kepandaiannya untuk bikin frustasi rakyat kecil. Orang yang berkuasa makin merasa menang. Dan yang mengalah justru merasa serba salah. Orang-orang yang baik dan suci justru dibenci dan dijauhi.
Peringatan Allah SWT, sudah ada tanda, gempa adanya membuat nyali semakin jadi ciut lantaran Pitik angkrem sadhuwurane pikulan. Maling wani nantang sing duwe omah. Begal pdha ndugal. Rampok pdha keplok-keplok.
Rakyat yang menginginkan kebahagiaan dan ketentraman justru khawatir, karena ayam yang bertelur dan mengeram itu di ujung tanduk. Harapan rakyat pasti jauh panggang dari api. Zaman semakin rusak. Pencuri semakin berani melawan yang punya rumah. Harta rakyat disikat. Begal dan rampok makin merajalela. Dan perampok gembira berpesta pora.
Anehnya ditengah-tengah kegembiraan dan pesta pora itu masih juga dilantunkan doa-doa keselamatan.
Akibat menyalahgunakan doa-doa ; Akeh wong mendem donga. Kana kene rebutan unggul. Angkara murka ngabra-ambra. Agama ditantang. Akeh wong angkara murka. Nggedheake duraka. Ukum agama dilanggar. Prikamanungsan di iles-iles. Kasusilaan budi pekerti, sopan santun ditinggal.

 

Artinya ;

 

Doa hanya pelengkap seremonial. Disana sini berebut keunggulan. Sebab angkara murka digelar dimana-mana. Agama dintang. Kedurhakaan dibesarkan. Hukum agama dilanggar. Kemanusiaan dilanggar. Kesusilaan di tanggalkan.
Nenek moyang prihatin sebab mereka mempunyai semangat baik, arif bijaksana serta meninggalkan diri dan menegakkan pribadi yang jujur semakin langka di zaman sekarang ini. Tata lahirnya saja tetapi semangatnya sudah bukan lagi manusia umumnya.
Wong jawa kari separo, Landa china kari sejodo. Akeh wong ijir, akeh wong cethil. Sing eman ora keduman. Sing keduman ora eman. Akeh wong mbambung. Akeh wong limbung. Selot suwe mbesuk wolak walike jaman teka saya suwe saya rekasa.
Piwulange nenek moyang ; Tuwa pan wus pantes, kalamun pupuse tansah ngengidung pepujan jati, karana wus lerem kerem ing reh rahayu.
Artinya ; Sudah tua seharusnyalah senantiasa mengedepankan kearifan Allah SWT sebagai pedoman hidup kita. Kerana senang dalam  ulah kebatinan yang mengarah kepada kelestarian.
Kalamun pupuse wus tumelung, tumuli ngalami alum, tumungkula kanthi alim, paniku sinebut sepuh, garis wates pepancening gsti pinasthi.
Artinya ; Kalau umur sudah senja, bergegaslah untuk untuk sadar dan insyaf karena sudah garis Allah SWT bahwa manusia harus mati, nunggu pastinya.
Tuwa hawya kongsi tiwas hangudi nggayuh utama, kang supadi sinupeket ing pamitran, margane antuk pangapura.
Artinya ; Sudah tua jangan sampai lelah memburu keutamaan, mencari sahabat, karena itulah jalan mendapatkan maaf.