Warga masyarakat RT 30 RW 08 Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulhardjo melaksanakan pembangunan jalan dengan cor, karena angkutan semi berat bisa masuk ini berkat partisipasi beberapa warga yang mempunyai kelebihan hasil untuk memperhatikan lingkungan, semua warga merasa sangat berterima kasih kepada penymbang dana pembangunan jalan dengan cor tersebut Peresmian dilaksanakan pada malam tirakatan 16 Agustus 2006 yang diresmikan oleh Ketua RT 30 Bapak Yos Tata Bhumi Putranto, bersama ketua RW 08 Bapak Sukardjijo. Beliau berpesan agar pembangunan terus ditingkatkan agar masyarakat dapat menjaga lingkungannya dengan baik serta mendukung program pemerintah Kota Yogyakarta, yang telah memperhatikan lingkungan, dengan program tanaman hias dengan bantuan setiap RW se Kota Yogyakarta menadapat bantuan sebesar Rp. 2 jt, sehingga lingkungan warga RT 30 harapan pengurus RT maupun pengurus RW agar menjadi bersih dengan didukung oleh semangat warganya sendiri. Pembangunan harus terus berjalan cepat atau lambat harus tetap berjalan. Demikian laporan singkat kami (Tri P)
RT 30 RW 08 Cor Jalan
Hujan dan Banjir datang
Hujan dan bajir yang beberapa bulan terakhir ini mungkin 2-3 bulan ke depan akan datang, masyarakat ada yang menunggu hujan agar semua tanaman, baik hasil hutan, pertanian sangat berharap dengan datang turunnya hujan. Pemerintah melalui Menteri Kehutanan MS Kaban yang dimuat dalam KR terbit Rabu Pon 13 September 2006 Halam depan mengungkapkan, pada musim hujan mendatang yang diperkirakan antara Oktober 2006 hingga Januari 2007, ada sekitar 5.073 desa di Pulau Jawa dan Selat Madura akan rawan bencana banjir dan tanah longsor.
Pemerintah dalam mengidikasikan ada 5.073 desa, 69 Kabupaten/Kota seluas 856.815 hektar dan 536.350 kepala keluarga yang rawan bencana di Pulau Jawa - Madura, apa yang dikatakan Pemerintah lewat Menteri Kehutanan itu memang benar, karena kami telah melihat sendiri dan mengunjungi selat Madura pada tanggal 9 - 11 September 2006 mengililingi Madura dari Pantai Selatan terus lewat Pantai Utara Selat Madura tersebut sangat rawan terjadinya banjir dan longsor jika hujan datang, karena hutan sebagai penghalang/penahan banjir sudah kering, pohon besar habis dibabat/dicuri hal ini sangat memprihatinkan bagi saya, sehingga kerusakan akibat pembabatan hujan yang membabi buta dan ulah kita berdampak pada kita, semua kembali pada kita. Menurut Menteri Kehutanan, bila hujan lebat terjadi selama 2-3 jam saja, maka potensi longosr dan banjirnya sangat tinggi. Indikasi bencana banjir dan tanah longsor disepanjang Pulau Jawa dan Selat Madura itu akibat hutan gundul yang ada didaerah tersebut. Apalagi hutan di Pulau Jawa kini tinggal 16 persen itu tutupan hutannya hanya tinggal 67 persen.
Untuk mengantisipasi banjir dan tanah longsor itu, alternatifnya adalah melaksanakan penghijauan dan juga pembuatan tanggul-tanggul baik kawasan hutan milik pemerintah maupun msayarakat sendiri yang dibantu oleh pemerintah, paling tidak dikoordinir pemerintah dari tingkat pusat sampai paling bawah. Demikian hasil kunjungan kami ke Pulau Madura penghasil Garam, dan ikan lautnya.(Tri P)
